Jumat, 12 Maret 2010


PENDEKATAN ”JALAN PINTAS”

ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Oleh: Ilham Radi A.Pammusu

( Guru SMA Negeri 1 Takalar)

A.Latar Belakang

Salah satu kompetensi yang semestinya dimiliki oleh seorang guru adalah keterampilan mengembangkan dan mengkolaborasi pendekatan pembelajaran yang mampu memotivasi dan merangsang cara belajar siswa kearah yang lebih baik.Suradi Jadir,(2004)mengemukakan bahwa kemampuan guru dalam meramu pendekatan pembelajaran turut berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

Model pembelajaran konvensional yang pada prinsipnya menata kegiatan pembelajaran secara klasikal dan rapi dimana guru melaksanakan pembelajaran secara monolog ternyata cenderung membosankan dan kurang merangsang siswa untuk lebih kreatif mengembangkan kemampuannya.Keadaan ini jika tidak disikapi secara serius akan berdampak negatif terhadap hasil belajar siswa yang tentu saja akan berpengaruh terhadap kemampuannya berkompetisi memperebutkan pasar kerja kelak jika terjun ke masyarakat.

Salah satu masalah umum yang dihadapi oleh sebagian guru saat ini adalah masih rendahnya kemauan yang dibarengi dengan kurangnya kemampuan dalam mengembangkan model/pendekatan pembelajaran yang inovatif.Padahal ”gaya dan variasi pembelajaran” mutlak dimiliki oleh seorang guru untuk mengurangi monotoisme yang menyebabkan ”lesunya” kegiatan pembelajaran.Model pembelajaran inovatif yang banyak ditunjang oleh kemajuan teknologi saat ini dapat membangkitkan semangat dan motivasi belajar siswa ,mengembangkan seluruh potensi siswa,menanamkan kehidupan yang demokratis dan menjadikan masyarakat dan lingkungan sebagai sumber belajar.Selain itu dapat menjadi solusi bagi mata pelajaran yang tidak memiliki laboratorium untuk pembelajaran praktek seperti geografi.

Pengalaman penulis selama mengajar geografi ,umumnya siswa kurang mampu mempertemukan konsep dengan kenyataan dilapangan apabila hanya disuguhi dengan media konvensional seperti atlas,globe,gambar chart,koran,majalah,dsb.Oleh karena itu diperlukan pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuannya menjadi sebuah konsep yang jelas dengan menyaksikan gejala alam,tanpa harus ”terjun” ke lapangan.

B.Jalan Pintas sebagai sebuah alternatif .

Istilah ”Jalan Pintas” biasanya berkonotasi negatif.Kadang ada yang menganggap bahwa ”jalan pintas” tidak profesional atau hanya mengandalkan trial and eror,coba-coba,dan sebagainya tetapi dalam konteks pendekatan pembelajaran yang ditawarkan melalaui tulisan ini,maknanya tidak seperti itu.Secara spesifik ”jalan pintas”digunakan oleh penulis untuk menggambarkan sebuah pendekatan yang memanfaatkan kemajuan ICT dipadukan dengan inovasi pembelajaran yang dalam hal ini dlm bentuk CD Pembelajaran.Pemanfaatan hasil inovasi pembelajaran dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti praktek lapangan(field work) yang merupakan salah satu tuntutan dalam pembelajaran geografi.Karena terdapat konsep-konsep yang memerlukan pembuktian fakta dilapangan.

Pendekatan short cut(jalan pintas)yang dimaksud disini adalah suatu pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan kondisi yang tersedia tanpa mengurangi makna/substansi maupun konten yang akan disampaikan kepada siswa.Pemanfaatan hasil inovasi pembelajaran misalnya dengan menggunakan CD pembelajaran interaktif yang diterbitkan oleh PUSTEKOM,atau media pembelajaran dari Pusat Sumber Belajar dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti praktek lapangan.Karena kenyataannya,praktek lapangan tidak efisien,baik dari segi waktu yang digunakan(jelas mengganggu jam pelajaran lain),biaya(memerlukan tambahan biaya dari siswa) dan keamanan( beresiko membawa siswa ke lapangan dalam jumlah yangt banyak).

Inovasi dalam teknologi pendidikan yang berkembang pesat saat ini dibidang informatika dan telekomunikasi seperti media pembelajaran interaktif yang dikemas dalam CD room interaktif membawa perubahan terhadap perkembangan metode dan pendekatan pembelajaran..Jika dihubungkan dengan materi geografi kehadiran media teknologi ini dapat menghadirkan gejala-gejala alam kedalam ruangan belajar sebagaimana keadaan sesungguhnya dialam terbuka tanpa harus membawa siswa praktek lapangan (fieldwork).Siswa dapat mencermati dari dekat materi yang disajikan melalui CD room interaktif serta dapat mengulangi tayangannya apabila terdapal hal-hal yang belum jelas.Selain itu secara psikologis kegiatan pembelajaran akan berlangsung menarik karena diiringi dengan alunan musik.Pendekatan short cut(jalan pintas) berbantuan CD room interaktif dapat diterapkan pada beberapa pokok bahasan sekaligus pada kelas X SMA.Sebagai contoh pada pokok bahasan atmosfera(1.5.),dinamika hidrosfera(1.6),dinamika fedosfera(1.7) khususnya sub pencemaran tanah.

C.Kesimpulan

1. Pendekatan short cut(jalan pintas) yang memanfaatkan CD room interaktif sebagai sumber utama kegiatan pembelajaran masih tergolong jarang diterapkan oleh guru.Padahal dibeberapa sekolah ini fasilitas media pembelajaran interaktif tersedia dan cukup refresentatif.Ini berdasarkan tulisan yang pernah dimuat dimedia ini,tentang semakin banyaknya lembaga pendidikan yang menerima bantuan komputer dan pusat sumber belajar dari Direktorat Jenderal Dikdasmen.

2.Perlunya memotivasi guru untuk memanfaatkan hasil inovasi pembelajaran secara efektif,

efisien.

3.Bagi guru geografi,saatnya mencari alternatif pendekatan lain yang dapat menjadi pengganti

pendekatan field work,asalkan makna dan substansi materi tidak membias.Karena

pendekatan ini lebih efisien baik dari segi waktu,biaya,keamanan dibandingkan praktek

lapangan(field work).

Selasa, 21 Juli 2009

Reformasi sekolah

SCHOOL REFORM UPAYA MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN SEKOLAH

A.Latar Belakang
Mencermati konstalasi yang berkembang dalam sistem pendidikan kita saat ini,sudah saatnya para pemikir dan pemerhati pendidikan dinegeri ini mencari solusi terbaik.Ironis memang ditengah upaya pemerintah mewujudkan amanat UUD 1945 tentang anggaran pendidikan sebesar 20 persen,seribu satu masalah masih menghantui sistem pendidikan ditanah air.Mulai dari regulasi sistem pendidikan yang dijalankan hingga masalah mutu luaran lembaga pendidikan. Beberapa problem mengenai mutu pendidikan kita seperti yang diungkapkan DR. Arief Rahman dalam Mukhlishah, 2002 adalah(1)pembiasaaan atau penyimpangan arah pendidikan dari tujuan pokoknya,(2)malproses dan penyempitan simplikatif lingkup proses pendidikan menjadi sebatas pengajaran,(3)pergeseran fokus pengukuran hasil pembelajaran yang lebih diarahkan pada aspek-aspek intelektual atau derajat kecerdasan nalar. Sedangkan menurut Surya(2002) salah satu problematika dalam pendidikan di Indonesia adalah keterbatasan anggaran dan sarana pendidikan, sehingga kinerja pendidikan tidak berjalan dengan optimal.Persoalan tersebut menjadi lebih komplek jika kita kaitkan dengan penumpukan lulusan karena tidak terserap oleh masyarakat atau dunia kerja karena rendahnya kompetensi mereka. Mutu dan hasil pendidikan tidak memenuhui harapan dan kebutuhan masyarakat atau mempunyai daya saing yang rendah.
Seiring dengan dicanangkannya budaya mutu dalam sistem persekolahan kita, pemerintah melakukan pembaharuan manajemen sekolah dengan mengimplementasikan kebijakan agar sekolah menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS itu sendiri adalah model manajemen yang memberikan keleluasaan / kewenangan kepada sekolah untuk mengelola sekolahnya sendiri dengan meningkatkan keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah dengan tetap memperhatikan standar pendidikan nasional (Irawan, A., 2004). School reform merupakan suatu konsep perubahan kearah peningkatan mutu dalam konteks manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS).
B.Reformasi sekolah
Dalam beberapa kasus terlihat jelas bahwa sistem pendidikan kita belum compatible dengan tuntutan dunia kerja di dalam masyarakatnya. Sistem pendidikan tidak menjadikan masyarakat sebagai dasar prosesualnya dan tidak berakar pada sosial budaya yang ada. Pendidikan berjalan di luar alam sosial budaya masyarakatnya, sehingga segala yang ditanamkan (dilatensikan) melalui proses pendidikan merupakan hal-hal yang tidak bersentuhan dengan persoalan kehidupan nyata yang dihadapi masyarakat tersebut.Implikasinya adalah terputus mata rantai budaya sosial antara satu generasi dengan generasi berikutnya. Generasi yang lebih muda menjadi tidak mampu mewarisi dan mengembangkan bangunan budaya sosial yang dikonstruksi oleh generasi pendahulunya, bahkan tidak mampu mengapresiasi dan seringkali berperilaku yang cenderung berakibat mengenyahkannya. Generasi seperti ini cenderung hanya mampu melihat kekurangan-kekurangan pendahulunya, tanpa menawarkan jalan keluar dan penyelesaiannya.
School reform harus mulai diterapkan untuk merespon pendidikan yang semakin terpuruk. Gerakan ini mau tidak mau harus diawali dengan mereformasi penyelenggaraan pendidikan di sekolah sebagai institusi yang memberikan layanan pendidikan apabila kita ingin pendidikan itu bermutu. Reformasi sekolah mempunyai makna yang sangat luas, bukan hanya terbatas pada pengelolaan sekolah saja. Dengan berubahnya paradigma pendidikan yang sangat mendasar, maka reformasi tersebut sudah selayaknya dilakukan. Adanya perubahan dalam dunia pendidikan bukannya suatu hal yang mengejutkan, tetapi sebaliknya merupakan suatu keharusan untuk menjawab tuntutan, baik tuntutan masyarakat, perkembangan teknologi dan tuntutan pendidikan itu sendiri.
C.Pendidikan berbasis masyarakat
Konsep pendidikan berbasis masyarakat hakikatnya adalah: dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat (Sihombing, U., 2001).Artinya pendidikan berbasis masyarakat adalah pendidikan yang dilakoni dan dikelola oleh masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas yang terdapat di masyarakat dan menekankan pentingnya partisipasi masyarakat pada setiap kegiatan belajar serta bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Tujuannya adalah untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas, terampil dan mandiri serta memiliki daya saing dengan melakukan program belajar yang sesuai kebutuhan masyarakat.Ini berarti bahwa pihak sekolah harus melakukan akuntabilitas (pertanggungjawaban) kepada masyarakat secara trasparan.Pengembangan akuntabilitas terhadap masyarakat akan menumbuhkan inovasi dan otonomi serta menjadikan pendidikan berbasis pada masyarakat (community based education). Untuk mewujudkan output pendidikan yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat dibutuhkan pendidikan yang bermutu,fleksibel dan inovatif. Persoalan tersebut menjadi lebih komplek jika kita kaitkan dengan penumpukan lulusan karena tidak terserap dalam dunia kerja karena rendahnya kompetensi.Akibatnya luaran-luaran lembaga pendidikan kita menjadi stagnan dan tidak memiliki daya saing.

D.Sekolah Mandiri dalam konteks pendidikan nasional kita
Sekolah mandiri bukan berarti lepas tanpa kendali, melainkan mandiri dalam konteks pendidikan nasional. Sekolah mempunyai kemandirian dalam melaksanakan rekayasa untuk menjabarkan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara nasional, tanpa meninggalkan latar belakang dan karakteristik kondisi lokal setempat. Untuk itu sekolah mandiri memiliki kultur, kebiasaan dan cara kerja baru yang berbeda dengan kebiasaan dan tata cara kerja pada umumnya. Kultur, kebiasaan-kebiasaan dan tata cara kerja baru ini akan mempengaruhi perilaku seluruh komponen sekolah; kepala sekolah, guru, pegawai administrasi, dan siswa.
Dalam jangka panjang, kebiasaan dan tata cara kerja baru ini akan berpengaruh dikalangan orang tua siswa dan masyarakat. Kultur, kebiasaan dan tata cara kerja baru tersebut antara lain: a) setiap sekolah memiliki visi dan misi, b) sekolah memiliki program yang mendasarkan pada data kuantitatif, c) sekolah merupakan sistem organik, d) sekolah memiliki kepemimpinan mandiri, e) sekolah memiliki program pemberdayaan bagi seluruh komponen sekolah, f) sekolah merupakan pusat kegiatan pelayanan jasa dengan tujuan pertama memberikan kepuasan maksimal bagi siswa, orang tua siswa, dan masyarakat selaku konsumen, g) sekolah mengembangkan “Trust” (kepercayaan) sebagai landasan interaksi internal maupun eksternal seluruh warga sekolah.
Sekolah mandiri tidak hanya diartikan dengan membentuk suatu lembaga disekolah dengan wewenang tertentu seperti anggaran dan kurikulum. Dengan terbentuknya lembaga ini belum tentu sekolah sudah memahami tanggung jawab dan peran yang baru dalam mengelola sekolah, dan akan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan singkat dikatakan, bahwa implementasi sekolah mandiri memerlukan suatu bentuk kesadaran baru dalam menjalankan organisasi sekolah.Kepala sekolah beserta guru, harus memiliki otonomi dan otoritas yang memadai, dan intruksi serta petunjuk dari kantor pendidikan harus dikurangi. Sejalan dengan itu berbagai sumber daya perlu disebarluaskan sampai pada dimensi sekolah. Seperti informasi prestasi siswa, kepuasan orang tua siswa dan masyarakat, serta sumber-sumber yang tersedia perlu disampaikan pada publik secara transparan.
Cerminan dari sekolah mandiri adalah suatu kebijakan yang menempatkan pengambilan keputusan pada mereka yang terlibat langsung pada proses pendidikan(stake holders), antara lain kepala sekolah, guru, orang tua siswa dan masyarakat. Kebijakan ini akan membawa implikasi tidak saja pada manajemen sekolah, tetapi juga pada implementasi kurikulum dan proses belajar mengajar yang dilaksanakan. Sebab, tanpa ada perubahan pada proses belajar mengajar, apapun yang dilaksanakan di sekolah tidak akan banyak artinya jika tanpa melibatkan aparat sekolah secara keseluruhan.

E.Kesimpulan
Berbagai terobosan dalam paradigma baru sistem pendidikan saat ini menjadi jawaban terhadap pengalaman pahit dimasa lalu .Bukti-bukti bahwa SDM kita kurang survive dalam persaingan memperebutkan pasar kerja menjadi pelajaran berharga bagi arah kebijakan pendidikan dimasa yang akan datang.Munculnya konsep sekolah mandiri sebagai implementasi dari pembelajaran berbasis masyarakat saatnya dikembangkan sebagai sebuah model yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM kita,sebagai upaya mewujudkan budaya mutu.Oleh karena itu diperlukan keberanian dan kerja keras dari segenap stake holders yang terlibat dalam sistem pendidikan kita untuk bersama-sama mewujudkan kemandirian dalam sistem pendidikan kita.

Minggu, 29 Maret 2009

Panduan Ujian Praktek Kelas XII Clabin Takalar

Pilihlah tema dibawah ini untuk dibuat dalam bentuk Presentasi Power Point.

 

1.Sumber daya Alam (PKLH)

2.Hakikat Geografi

3.Sejarah Pembentukan Bumi

4.Tata Surya

5.Dinamika Litosfera dan Pedosfera

6.Dinamika Perubahan Atmosfera

7.Dinamika Perubahan Hidrosfera

8.Siklus Air

9.Kelompok Sosial

10.Masyarakat Multikultural

11.Tipe-tipe Kelompok Sosial

12.Etika Dan Moral Dalam Teknologi Informasi

13.Perangkat keras Dalam Teknologi Informasi

14.Perangkat Lunak Dalam Teknologi Informasi

15.Program Pengolah Kata

17.Program Pengolah Angka

18.Peranan Internet dalam Dunia Pendidikan

19.Manfaat friendster bagi remaja

20.Konservasi sumber Daya Alam

21.Pembangunan Berwawasan Lingkungan Hidup

22.Membangun pola pikir cinta lingkungan dikalangan siswa

 

 

Kriteria Penilaian       :

1.Kesesuain judul dengan isi yang dibangun dalam Power Point

2.Jelasnya materi yang disampaikan

3.Pemanfaatan animasi secara tepat

4.Keindahan

5.Penataan dan penggunaan bahasa yang cermat(singkat,jelas dan tepat)

6.Orisinil hasil pekerjaan

 

 

 

 

Selasa, 06 Januari 2009


Awal januari 2009 yang penuh dengan optimisme,......

Minggu, 21 Desember 2008

akademisi


Setelah melalui jalan yang terjal dan melelahkan,Alhamdulillah tahun 2003,lulus Program Magister Di UNM Makassar Prodi Kependudukan Dan Lingkungan Hidup.Mudah2an menjadi "pemicu" bagi anak2 saya ke depan.

Bandung


Lagi pesiar ke obyek wisata Tangkuban perahu

Jumat, 05 Desember 2008

Pembelajaran Geo


PEMBELAJARAN GEOGRAFI BERBASIS IMAN DAN TAQWA
(Upaya pengembangan nilai iman dan taqwa pada materi Lingkungan Hidup dan Pembangunan berwawasan lingkungan)

Ilham Radi A.Pammusu
(Guru SMA Negeri 1 Takalar)
1.Pendahuluan

Berbagai kerusakan lingkungan hidup dimuka bumi ini disebabkan oleh perbuatan manusia.Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,manusia seringkali mempergunakan segala macam cara demi memperoleh hasil yang maksimal tanpa memikirkan keterbatasan daya dukung serta daya lenting lingkungan hidup.
Permasalahan lingkungan hidup berhubungan erat dengan nilai-nilai etika,moral dan sikap serta budaya masyarakat setempat.Pendidikan memegang peranan yang penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang akan melaksanakan pembangunan.Proses penanaman nilai-nilai imtaq akan merubah pola pikir,sikap dan prilaku manusia dari pola”manusia melawan alam” menjadi “manusia sahabat alam” sebagai perwujudan budi luhur, yang sangat tepat dilakukan melalui jalur pendidikan.
Keserakahan dan kebodohan manusia dapat mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup.Sebaliknya kearifan manusia dapat membawa konsekuensi yang positif bagi keberadaan lingkungan hidup agar lebih serasi dan tetap lestari.Keserakahan dan kebodohan manusia menunjukkan tingkat akal sekaligus ahlak yang relatif masih rendah,sedangkan kearifan mencerminkan perpaduan akal dan ahlak yang tinggi pada manusia.Akal memungkinkan kita untuk mengatakan apa yang dapat dan apa yang tidak dapat dilakukan,sedangkan ahlak menuntut apa yang patut dan apa yang tidak patut kita lakukan.
Lingkungan hidup perlu direncanakan secara matang ke dalam proses pembangunan agar dapat menjamin kemampuan,kesejahteraan dan kualitas hidup generasi kini dan generasi yang akan dating..Pengelolaaan Lingkungan hidup hendaknya diselenggarakan berdasarkan azas berkelanjutan dan azas manfaat.Tujuannya adalah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya,berbudi pekerti yang luhur,beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pendidikan lingkungan hidup merupakan salah satu sarana dalam rangka membentuk warganegara yang berwawasan lingkungan.Hal ini disebabkan oleh berbagai fakta yang menunjukkan bahwa akar penyebab krisis lingkungan adalah manusia,sementara untuk merubah segala aspek psikologis manusia tiada jalan lain kecuali melalui jalur pendidikan.
2.Pendekatan pendidikan
Pendekatan pendidikan merupakan jalur strategis yang memberikan harapan untuk menunjang pemecahan masalah lingkungan hidup jangka panjang.Program pendidikan senantiasa berkembang dan maju dengan berbagai inovasi agar sesuai dengan aspirasi masyarakat.Dunia pendidikan berfungsi sebagai wadah untuk memperkenalkan dan membina nilai-nilai yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan perkembangan kebudayaan nasional.Peserta didik tidak hanya mampu menjadi warga negara pengembang dan pengamal IPTEK yang ramah lingkungan dan hemat sumberdaya alam,melainkan juga harus dapat menerima dan menjalankan nilai-nilai insan pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari amal salehnya.Amal saleh bagi anak keturunannya dimasa dating dan taqwa pada maha penciptaNya yang memberkahinya.(Thalib,2002).
Rasa taqwa kepada Allah swt.dapat dikembangkan dengan cara menghayati keagungan dan kebesaran Tuhan melalui sikap positif terhadap ciptaanNya termasuk lingkungan hidup.Dalam penjelasan Al-Qur’an tersurat bahwa hanyalah mereka yang memahami lingkungan hidup dan menghayati hikmah serta menfaatnya sebagai ciptaan Ilahi yang dapat benar-benar merasakan kehadiran Tuhan sehingga akan menimbulkan keinsafan.Keinsafan sangat dibutuhkan dalam pembentukan rasa taqwa yang dapat diperoleh melalui jalur pendidikan.Diharapkan peserta didik mampu mengintegrasikan dan menerapkan nilai-nilai yang diperolehnya di dalam proses pembelajaran disekolah pada kehidupan yang nyata dimasyarakat khususnya yang bberdampak langsung terhadap lingkungan hidup.
3.Pendekatan nilai keagamaan
Secara umum didalam ajaran semua agama senantiasa mengajarkan kepada pemeluknya agar manusia tidak melawan alam melalui mental frontier/perusak yang dimilikinya.Secara khusus didalam ajaran Islam melalui sistem nilainya seperti iman,ihsan dan syukur mengisaratkan bahwa upaya menjaga keseimbangan lingkungan hidup merupakan bahagian dari sifat keimanan(yang berupa sikap bathin yang penuh kepercayaan kepada Tuhan).Islam menghendaki ummatnya hidup bahagia dan sejahtera oleh karena itu manusia diberi daya nalar dan akal agar senantiasa bertindak menjaga amanah Tuhan.Manusia diberi karunia berupa alam semesta beserta isinya sebagai sumber duniawi dan diberi sistem nilai dan norma Ilahiyah yakni Al-Qur’an dan sunnah.Saefuddin,A.M (Maftuchah;2000)mengemukakan bahwa dampak dan pengaruh sistem nilai dan norma Islam terhadap perilaku manusia dapat integral dan potensial tergantung pada sejauhmana keyakinan totalnya terhadap sistem nilai tersebut.
Dalam ajaran Islam terdapat sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya serta cara-cara agar manusia tidak menyalahgunakan karunia yang dilimpahkan kepadanya sebagai bahagian dari sifat kemanusiaannya.Oleh karena itu manusia harus selalu menyadari bahwa Allah akan hadir dimanapun manusia berada (sifat ihsan).Manusia dituntut untuk mempergunakan sumber daya alam secara wajar dan tidak boros serta selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagi perwujudan dari rasa syukur atas segala nikmat dan karunia Allah.Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum:41 dipaparkan bagaimana kerusakan dan penghancuran didaratan dan dilautan yang disebabkan oleh ulah manusia.Dijelaskan pula bagaimana Allah merasakan kepada manusia sebagai buah dari perlakuannya terhadap alam.Begitu pula dengan upaya untuk meningkatkan kesejahteraannya,manusia dengan akal pikirannya melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan sumber daya alam diharapkan bertindak sebagai khalifah Allah swt.Penggunaan akal pikiran dalam proses kehidupan dilaksanakan sebagai penyempurnaan ibadah.
Dalam Al-Qur,an surat Fathir;27-28 dijelaskan bahwa yang benar-benar bertaqwa dan takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang memiliki pengetahuan.yaitu orang-orang yang senantiasa memperhatikan lingkungan hidup beserta gejala-gejala yang terjadi di alam seperti hujan,perkembangbiakan vegetasi.Selain itu mampu menangkap hikmah dari diturunkannya batu-batuan dan mineral termasuk upaya untuk melestarikannya.Ini berarti bahwa yang dimaksud dengan taqwa adalah mereka yang berilmu,dan tetap menghayati kehadiran Tuhan dengan segakla keagunganNya.hal melahirkan munculnya sifat keinsafan akan Ketuhanan yang mendalam.Dari rasa keinsafan itulah timbul rasa taqwa yang dapat diperoleh melalui proses pendidikan dalm berbagai bentuknya.
4.Pendekatan nilai-nilai etika dan moral lingkungan hidup
Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa manusia dititahkan oleh Allah swt. Sebagai mahluk yang terbaik dengan dikaruniai akan dan pikiran.Usaha menangani pengrusakan lingkungan hidup telah diusahakan dengan berbagai tindakan dan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi.Tindakan-tindakan ini tidak akan berarti banyak jika ditempatkan dalam kerangka sistem kepercayaan etika manusia yang dianut.Etika lingkungan yang hingga saat ini berlaku adalah etika lingkungan yang didasarkan pada sistem nilai”manusia bukan bagian dari alam,manusia sebagai penakluk dan pengatur alam”.Sikap dan nilai ini menurut Chiras(Maftuchah,2000)timbul dan tumbuh dari sifat dasar manusia sebagai mahluk biologis yang ingin makan untuk terus hidup bagi dirinya sendiri dan keturunannya.
Akal dan nalar manusia menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan hidupnya,”manusia penekluk alam dan manusia lawan alam”mendasari pelaksanaan hubunagn antara manusia dengan lingkungan hidupnya.Konsep ini seakan-akan menjadi dasar falsafah sekuler sejarah yang memandang jalan peradaban manusia sebagai gerakan,sustau evolusi dari waktu manusia harus tunduk dan diatur oleh alam sampai ke titik dimana terjadi kebalikannya.Penafsiran ini sangat erat hubungannya dengan keinginan manusia untuk memperbaiaki kehidupannya dengan mengembangkan seni dan ilmu pengetahuan.Pemikiran ini lambat laun berkembang menjadi pikiran tentang kemajuan yang sering nampak sebagai pelepasan diri dari pengaruh alam atau dengan kata lain penguasaan alam oleh manusia.Manusia yang pandangan hidupnya berpusat pada manusia,umumnya memiliki persepsi tentang alam sebagai;(1).memandang alam dan bumi sebagai pemberi sumber bahan kehidupan manusia yang tidak terbatas dengan keyakinan bahwa selalu ada sesuatu lagi,(2).memandang manusia sebagai mahluk hidup diluar alam,baukan bahagian dari alam,(3).memandang alam sebagai sesuatu yang perlu dikuasai.
Perilaku manusia yang menyalahi amanah titipan Tuhan Yang Maha Esa untuk mengatur hubungan manusia dengan lingkungan hidup merupakan refleksi dari perbedaan kuat atau lemahnya manusia meyakini sistem nilai,etika dan moral Ilahiyah ini.Konsep tentang manusia melawan alam sebagai falsafah hidup yang dianut selam ini merupakan pandangan yang keliru dan harus diperbaharui.Kepada peserta didik perlu diperkenalkan suatu konsep hubungan timbal balik ekologis.Suatu sistem etika dan moral lingkungan hidup yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist dapat mengoperasionalkan pengertian dan konsep “ekosistem” yang akan memperkuat pembangunan berkelanjutan.Peserta didik diyakinkan untuk merubah mentalitasnya dari “penakluk alam” menjadi mentalitas “berkelanjutan”atas dasar keyakinan bahwa : (1)persediaan sumber daya alam yang dimiliki planet bumi terbatas,(2)manusia merupakan bahagian dari alam,(3)manusia tidak superior terhadap alam.Etika dan moral tersebut senantiasa ditanamkan kepada peserta didik yang perwujudan nyatanya berupa tingkah laku dan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnya akan melahirkan budi pekerti atau al-akhlag al-kharimah.Keterkaitan yang erat antara taqwa dan budi luhur adalah juga makna keterkaitan antara iman dan amal saleh,shalat dan zakat,hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.