PEMBELAJARAN GEOGRAFI BERBASIS IMAN DAN TAQWA
(Upaya pengembangan nilai iman dan taqwa pada materi Lingkungan Hidup dan Pembangunan berwawasan lingkungan)
Ilham Radi A.Pammusu
(Guru SMA Negeri 1 Takalar)
1.Pendahuluan
Berbagai kerusakan lingkungan hidup dimuka bumi ini disebabkan oleh perbuatan manusia.Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,manusia seringkali mempergunakan segala macam cara demi memperoleh hasil yang maksimal tanpa memikirkan keterbatasan daya dukung serta daya lenting lingkungan hidup.
Permasalahan lingkungan hidup berhubungan erat dengan nilai-nilai etika,moral dan sikap serta budaya masyarakat setempat.Pendidikan memegang peranan yang penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang akan melaksanakan pembangunan.Proses penanaman nilai-nilai imtaq akan merubah pola pikir,sikap dan prilaku manusia dari pola”manusia melawan alam” menjadi “manusia sahabat alam” sebagai perwujudan budi luhur, yang sangat tepat dilakukan melalui jalur pendidikan.
Keserakahan dan kebodohan manusia dapat mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup.Sebaliknya kearifan manusia dapat membawa konsekuensi yang positif bagi keberadaan lingkungan hidup agar lebih serasi dan tetap lestari.Keserakahan dan kebodohan manusia menunjukkan tingkat akal sekaligus ahlak yang relatif masih rendah,sedangkan kearifan mencerminkan perpaduan akal dan ahlak yang tinggi pada manusia.Akal memungkinkan kita untuk mengatakan apa yang dapat dan apa yang tidak dapat dilakukan,sedangkan ahlak menuntut apa yang patut dan apa yang tidak patut kita lakukan.
Lingkungan hidup perlu direncanakan secara matang ke dalam proses pembangunan agar dapat menjamin kemampuan,kesejahteraan dan kualitas hidup generasi kini dan generasi yang akan dating..Pengelolaaan Lingkungan hidup hendaknya diselenggarakan berdasarkan azas berkelanjutan dan azas manfaat.Tujuannya adalah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya,berbudi pekerti yang luhur,beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pendidikan lingkungan hidup merupakan salah satu sarana dalam rangka membentuk warganegara yang berwawasan lingkungan.Hal ini disebabkan oleh berbagai fakta yang menunjukkan bahwa akar penyebab krisis lingkungan adalah manusia,sementara untuk merubah segala aspek psikologis manusia tiada jalan lain kecuali melalui jalur pendidikan.
2.Pendekatan pendidikan
Pendekatan pendidikan merupakan jalur strategis yang memberikan harapan untuk menunjang pemecahan masalah lingkungan hidup jangka panjang.Program pendidikan senantiasa berkembang dan maju dengan berbagai inovasi agar sesuai dengan aspirasi masyarakat.Dunia pendidikan berfungsi sebagai wadah untuk memperkenalkan dan membina nilai-nilai yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan perkembangan kebudayaan nasional.Peserta didik tidak hanya mampu menjadi warga negara pengembang dan pengamal IPTEK yang ramah lingkungan dan hemat sumberdaya alam,melainkan juga harus dapat menerima dan menjalankan nilai-nilai insan pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari amal salehnya.Amal saleh bagi anak keturunannya dimasa dating dan taqwa pada maha penciptaNya yang memberkahinya.(Thalib,2002).
Rasa taqwa kepada Allah swt.dapat dikembangkan dengan cara menghayati keagungan dan kebesaran Tuhan melalui sikap positif terhadap ciptaanNya termasuk lingkungan hidup.Dalam penjelasan Al-Qur’an tersurat bahwa hanyalah mereka yang memahami lingkungan hidup dan menghayati hikmah serta menfaatnya sebagai ciptaan Ilahi yang dapat benar-benar merasakan kehadiran Tuhan sehingga akan menimbulkan keinsafan.Keinsafan sangat dibutuhkan dalam pembentukan rasa taqwa yang dapat diperoleh melalui jalur pendidikan.Diharapkan peserta didik mampu mengintegrasikan dan menerapkan nilai-nilai yang diperolehnya di dalam proses pembelajaran disekolah pada kehidupan yang nyata dimasyarakat khususnya yang bberdampak langsung terhadap lingkungan hidup.
3.Pendekatan nilai keagamaan
Secara umum didalam ajaran semua agama senantiasa mengajarkan kepada pemeluknya agar manusia tidak melawan alam melalui mental frontier/perusak yang dimilikinya.Secara khusus didalam ajaran Islam melalui sistem nilainya seperti iman,ihsan dan syukur mengisaratkan bahwa upaya menjaga keseimbangan lingkungan hidup merupakan bahagian dari sifat keimanan(yang berupa sikap bathin yang penuh kepercayaan kepada Tuhan).Islam menghendaki ummatnya hidup bahagia dan sejahtera oleh karena itu manusia diberi daya nalar dan akal agar senantiasa bertindak menjaga amanah Tuhan.Manusia diberi karunia berupa alam semesta beserta isinya sebagai sumber duniawi dan diberi sistem nilai dan norma Ilahiyah yakni Al-Qur’an dan sunnah.Saefuddin,A.M (Maftuchah;2000)mengemukakan bahwa dampak dan pengaruh sistem nilai dan norma Islam terhadap perilaku manusia dapat integral dan potensial tergantung pada sejauhmana keyakinan totalnya terhadap sistem nilai tersebut.
Dalam ajaran Islam terdapat sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya serta cara-cara agar manusia tidak menyalahgunakan karunia yang dilimpahkan kepadanya sebagai bahagian dari sifat kemanusiaannya.Oleh karena itu manusia harus selalu menyadari bahwa Allah akan hadir dimanapun manusia berada (sifat ihsan).Manusia dituntut untuk mempergunakan sumber daya alam secara wajar dan tidak boros serta selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagi perwujudan dari rasa syukur atas segala nikmat dan karunia Allah.Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum:41 dipaparkan bagaimana kerusakan dan penghancuran didaratan dan dilautan yang disebabkan oleh ulah manusia.Dijelaskan pula bagaimana Allah merasakan kepada manusia sebagai buah dari perlakuannya terhadap alam.Begitu pula dengan upaya untuk meningkatkan kesejahteraannya,manusia dengan akal pikirannya melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan sumber daya alam diharapkan bertindak sebagai khalifah Allah swt.Penggunaan akal pikiran dalam proses kehidupan dilaksanakan sebagai penyempurnaan ibadah.
Dalam Al-Qur,an surat Fathir;27-28 dijelaskan bahwa yang benar-benar bertaqwa dan takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang memiliki pengetahuan.yaitu orang-orang yang senantiasa memperhatikan lingkungan hidup beserta gejala-gejala yang terjadi di alam seperti hujan,perkembangbiakan vegetasi.Selain itu mampu menangkap hikmah dari diturunkannya batu-batuan dan mineral termasuk upaya untuk melestarikannya.Ini berarti bahwa yang dimaksud dengan taqwa adalah mereka yang berilmu,dan tetap menghayati kehadiran Tuhan dengan segakla keagunganNya.hal melahirkan munculnya sifat keinsafan akan Ketuhanan yang mendalam.Dari rasa keinsafan itulah timbul rasa taqwa yang dapat diperoleh melalui proses pendidikan dalm berbagai bentuknya.
4.Pendekatan nilai-nilai etika dan moral lingkungan hidup
Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa manusia dititahkan oleh Allah swt. Sebagai mahluk yang terbaik dengan dikaruniai akan dan pikiran.Usaha menangani pengrusakan lingkungan hidup telah diusahakan dengan berbagai tindakan dan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi.Tindakan-tindakan ini tidak akan berarti banyak jika ditempatkan dalam kerangka sistem kepercayaan etika manusia yang dianut.Etika lingkungan yang hingga saat ini berlaku adalah etika lingkungan yang didasarkan pada sistem nilai”manusia bukan bagian dari alam,manusia sebagai penakluk dan pengatur alam”.Sikap dan nilai ini menurut Chiras(Maftuchah,2000)timbul dan tumbuh dari sifat dasar manusia sebagai mahluk biologis yang ingin makan untuk terus hidup bagi dirinya sendiri dan keturunannya.
Akal dan nalar manusia menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kesejahteraan hidupnya,”manusia penekluk alam dan manusia lawan alam”mendasari pelaksanaan hubunagn antara manusia dengan lingkungan hidupnya.Konsep ini seakan-akan menjadi dasar falsafah sekuler sejarah yang memandang jalan peradaban manusia sebagai gerakan,sustau evolusi dari waktu manusia harus tunduk dan diatur oleh alam sampai ke titik dimana terjadi kebalikannya.Penafsiran ini sangat erat hubungannya dengan keinginan manusia untuk memperbaiaki kehidupannya dengan mengembangkan seni dan ilmu pengetahuan.Pemikiran ini lambat laun berkembang menjadi pikiran tentang kemajuan yang sering nampak sebagai pelepasan diri dari pengaruh alam atau dengan kata lain penguasaan alam oleh manusia.Manusia yang pandangan hidupnya berpusat pada manusia,umumnya memiliki persepsi tentang alam sebagai;(1).memandang alam dan bumi sebagai pemberi sumber bahan kehidupan manusia yang tidak terbatas dengan keyakinan bahwa selalu ada sesuatu lagi,(2).memandang manusia sebagai mahluk hidup diluar alam,baukan bahagian dari alam,(3).memandang alam sebagai sesuatu yang perlu dikuasai.
Perilaku manusia yang menyalahi amanah titipan Tuhan Yang Maha Esa untuk mengatur hubungan manusia dengan lingkungan hidup merupakan refleksi dari perbedaan kuat atau lemahnya manusia meyakini sistem nilai,etika dan moral Ilahiyah ini.Konsep tentang manusia melawan alam sebagai falsafah hidup yang dianut selam ini merupakan pandangan yang keliru dan harus diperbaharui.Kepada peserta didik perlu diperkenalkan suatu konsep hubungan timbal balik ekologis.Suatu sistem etika dan moral lingkungan hidup yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist dapat mengoperasionalkan pengertian dan konsep “ekosistem” yang akan memperkuat pembangunan berkelanjutan.Peserta didik diyakinkan untuk merubah mentalitasnya dari “penakluk alam” menjadi mentalitas “berkelanjutan”atas dasar keyakinan bahwa : (1)persediaan sumber daya alam yang dimiliki planet bumi terbatas,(2)manusia merupakan bahagian dari alam,(3)manusia tidak superior terhadap alam.Etika dan moral tersebut senantiasa ditanamkan kepada peserta didik yang perwujudan nyatanya berupa tingkah laku dan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnya akan melahirkan budi pekerti atau al-akhlag al-kharimah.Keterkaitan yang erat antara taqwa dan budi luhur adalah juga makna keterkaitan antara iman dan amal saleh,shalat dan zakat,hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar